Tuesday, August 19, 2008

SIAPA MENANAM, IA AKAN MENUAI


"Tentu beda Nak Mas, menyalurkan infaq kepada fakir miskin, berbeda dengan ketika kita memberi uang kepada pengemis............” Kata Ki Bijak, menjawab pertanyaan apakah penyaluran dana infaq kepada fakir miskin sama dengan kita memberi kepada pengemis.

“Dimana bedanya ki...............?” Tanya Maula.

“Fakir dan miskin adalah orang yang membutuhkan, yaitu orang yang tidak memiliki apa yang dibutuhkannya, misalnya mereka tidak memiliki uang untuk membeli kebutuhan hidupnya, mereka tidak memiliki beras, lauk dan kebutuhan pokok lainnya, sebagaimana sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang orang miskin, beliau menjawab; ‘Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling meminta-minta, lalu diberi
sesuap atau dua suap, satu buah kurma atau dua buah, orang miskin adalah Alladzii laa yajidu ghinan yu’niiHi, wa laa yufthaanu laHu fayutashaddaqa alayHi wa laa yas-alun naasa syai-an, yang artinya orang miskin adalah Orang yang tidak memiliki sesuatu yang dapat menutupi kebutuhannya, dan kondisinya tidak diketahui sehingga diberi shadaqah, maka ia diberi zakat dan dia tidak meminta-minta (HR Bukhari dan Muslim).

“Atau orang miskin adalah orang-orang yang bekerja serta memiliki pendapatan, namun tidak mencukupi kebutuhan hidupnya, sebagaimana firman Allah swt;


79. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan Aku bertujuan merusakkan bahtera itu, Karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.

“Pada ayat tersebut di atas mereka disifati dengan sifat miskin, padahal mereka memiliki kapal laut dan memperoleh pendapatan…..” sambung Ki Bijak.

“Lalu akan halnya pengemis ki……….?” Tanya Maula.

“Pengemis, dalam hemat Aki, lebih pada sikap mental seseorang Nak Mas……” Kata Ki Bijak.

“Maksudnya ki………?” Tanya Maula.

“Ada banyak orang yang secara lahiriyah tidak termasuk dalam kategori miskin sebagaimana Aki dijelaskan tadi, tapi mereka tetap meminta-minta, mereka masih mau makan dari uang infaq, mereka masih berharap untuk menerima sedekah dari orang lain, bahkan Aki masih sering melihat orang-orang yang ‘gagah’ berseragam, dan mungkin memiliki posisi tertentu, masih senang menadahkan tangannya untuk menerima pemberian orang lain, orang-orang semacam inilah yang dalam pandangan Aki termasuk kedalam kategori pengemis, terlepas dari berapapun pendapatanya, terlepas dari kondisi bahwa mereka mampu mencukupi kebutuhan hidupnya dari hasil kasabnya…………., dan mereka dalam kategori ini memang sebaiknya tidak dimasukan kedalam golongan yang menerima infaq…” Kata Ki Bijak.
“Kenapa Ki……….?” Tanya Maula.

“Karena mereka sebenarnya lebih membutuhkan pemulihan mental dari sekedar uang untuk memenuhi kebutuhannya, mereka perlu dibimbing dan dididik serta disadarkan bahwa tangan diatas, jauh lebih baik dari pada tangan dibawah, mereka perlu disadarkan bahwa meminta-minta, bukanlah sebuah alternatif terbaik bagi mereka, sementara sebenarnya mereka masih punya potensi untuk mendapatkan penghasilan secara layak………….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, sekarang ini memang agak dilematis ketika kita dihadapkan pada pilihan apakah akan memberi sedikit uang pada pengemis atau tidak memberinya…., kalau kita kasih terus, mereka malah keenakan dan tidak mau berusaha, sementara kalau tidak dikasih, kadang ada rasa iba juga ki, jangan-jangan mereka memang benar-benar belum makan lainnya………” Kata Maula.

“Karenanya kita harus mampu memilah dan memilih kepada siapa saja kita harus berinfaq dengan tujuan untuk membantu, dan kepada siapa kita harus berkata ‘ma’af, dengan tidak memberi mereka uang, bukan karena kita benci, tapi itulah salah satu cara kita mendidik mereka dan agar mereka berfikir dengan bijak……..” Kata Ki Bijak.

“Syukurlah ki, jelas bagi ana sekarang bahwa penyaluran infaq kemarin itu benar-benar kepada orang fakir & miskin sebagaimana Aki jelaskan tadi, ana khawatir penyaluran infaq kemarin salah sasaran, karena beberapa orang berpendapat bahwa menyalurkan infaq kepada fakir miskin yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dari hasil usahanya itu relatif sama dengan memberi uang kepada pengemis…….” Kata Maula.

“Memang sangat samar sekali Nak Mas, sangat sulit membedakan mana orang yang benar-benar miskin, dan orang-orang yang memiskinkan dirinya dengan lebih mengutamakan meminta-minta daripada menyempurnakan kasabnya……” Kata Ki Bijak.

“Mungkin sebagian mereka terjebak pada idiom yang salah ya ki………” Kata Maula.

“Idiom apa Nak Mas….?” Tanya Ki Bijak.

“Itu ki, orang-orang sering menggunakan istilah Take and Give, menerima dan memberi, mestinya Give dan Take kali ya ki, memberi dulu, baru menerima…………….” Kata Maula.

“Itukan hanya istilah Nak Mas, meski mungkin juga benar adanya, tapi kalau kita mau belajar, hanya mereka yang mau menanam sajalah yang akan menuai hasilnya, tidak ada buah yang akan bisa dipetik kalau kita tidak pernah menanam……..” Kata Ki Bijak.

“Menanam dulu, baru menuai hasilnya ya ki……………” Kata Maula

“Benar Nak Mas, atau dalam kata lain, memberikan tenaga dan pikiran dulu, melakukan sesuatu dulu, atau menanam dulu, baru kita menerima imbalan, bukankah ditempat Nak Mas bekerja pun demikian….?’ Nak Mas bekerja dulu, baru kemudian diakhir bulan Nak Mas mendapatkan imbalan atas kerja Nak Mas sebulan sebelumnya……?” Kata Ki Bijak.

“Benar ki, sangat jarang ada orang yang mendapatkan pendapatan dimuka, baru kemudian baru bekerja…………….” Kata Maula.

“Lalu apa pertimbangan Nak Mas mau melakukan pekerjaan dulu, kemudian baru menerima upah………..?” Tanya Ki Bijak.

“Karena adanya jaminan dari perusahaan untuk membayar gaji diakhir bulan…….” Kata Ki Bijak.

“Nak Mas yakin dengan jaminan itu……?” Tanya Ki Bijak.

“Iya ki, kami terikat kontrak kerja yang salah satu isinya adalah syarat dan ketentuan kerja dan upah yang akan kami terima, jadi dengan kontrak itulah kami mendapatkan jaminan dari perusahaan untuk mendapatkan upah diakhir bulan…..”Kata Maula.

“Aki menggaris bawahi kata ‘yakin’ dan ‘keyakinan’ yang Nak Mas katakana barusan, dan hal itu benar, kita harus memiliki keyakinan agar kita dapat berbuat sesuatu dengan baik dan benar serta ikhlas, pun demikian halnya dengan ibadah kita Nak Mas, Allah menjanjikan pahala untuk shalat yang kita dirikan, Allah menjanjikan imbalan yang berlipat atas infaq, sedekah dan zakat yang kita tunaikan, Allah menjanjikan pahala untuk semua amaliah kita, baik yang besar atau yang tak terlihat sekalipun, yang kita butuhkan dan harus kita bangun sekarang adalah bagaimana keyakinan akan kebenaran janji Allah itu tertanam dan mengakar dihati kita, bagaimana keyakinan itu melandasi dan menggerakan setiap amaliah kita, karena tanpa itu, kita akan banyak bertanya dan malas-malasan dalam beramal………….”Kata Ki Bijak.

“Iya ki, terima kasih, semoga ana dikaruniai Allah kemampuan untuk menanam, sebelum ana benar-benar memetik buahnya………..” Kata Maula.

“Insya Allah Nak Mas, tanamlah selaksa kebaikan, kapanpun, dimanapun, dengan cara apapun yang Nak Mas punya dan Nak Mas mampu melakukannya, dan Nak Mas tidak perlu risau dengan hasilnya, karena Allah yang telah menjamin barang siapa berbuat kebajikan seberat zarah sekalipun, maka ia akan menuai buah dari apa yang ditanamnya………….” Kata Ki Bijak.

“Iya ki, sekali terima kasih…………..” kata Maula sambil menyalami gurunya.

Wassalam

July 31, 2008

No comments:

Post a Comment