Friday, February 16, 2007

Dinda, Darimu Nak, ayah belajar

“Lihatlah Nak, bagaimana mereka tidak makan”, sementara Dinda tidak mau makan padahal Allah sudah memberi rezeki berupa makanan ini”, Kata seorang ayah yang sedang membujuk Dinda, anaknya untuk mau makan, sambil menunjuk contoh ditelevisi bagaimana orang-orang yang “kurang beruntung” tidak bisa makan sebagaimana layaknya.

“Pah, kenapa mereka nggak makan?” Tanya gadis kecil berusia tiga tahunan dengan polosnya.

Ayahnya menjawab, “ Karena mereka nggak punya makanan”, Jawab sang ayah sekenanya. Tanpa diduga, sianak terus mengejar dengan pertanyaan selanjutnya;

“Kenapa mereka nggak punya makanan” Tanya si anak

“Karena mereka tidak punya uang”, kata sang ayah, masih dengan jawaban layaknya kepada anak kecil

“Kenapa mereka nggak punya uang?” lanjut sang anak

“Karena memang Allah belum memberi mereka rezeki kepada mereka”, Jawab sang ayah agak mulai serius.

Selanjutnya muncullah pertanyaan yang tidak pernah diduga oleh sang ayah,

“Pah, Allah tuh siapa sih pah, kok ngasih rezekinya beda-beda, Allah tuh dimana sih pah?”

Entah apa yang menuntun si anak kecil ini untuk mengajukan pertanyaan yang tidak pernah diduga akan keluar dari mulut mungilnya, duugh, sang ayah terdiam memandangi anaknya, ia tidak siap dan tidak menyangka akan mendapat pertanyaan itu,

“Allah, yaa Allah.....”, Jawabnya gagap, karena memang sebelumnya ia tidak pernah mempertanyakan Allah, karena ia merasa sudah “tahu” Allah, tapi kenyataannya, ketika pertanyaan itu diajukan oleh anaknya yang masih lugu, ia sama sekali ia tidak bisa menjawabnya, ia berkilah, belum waktunya untuk seorang anak kecil untuk mengetahui “siapa itu Allah” untuk menutupi ketidak tahuannya tentang Allah.

Lalu, kenapa Allah memberi rezeki yang berbeda-beda kepada setiap orang, sehingga ada yang bisa makan dan ada orang yang kelaparan, pertanyaan ini pun dijawab oleh sang ayah dengan mengalihkan perhatian sang anak untuk melanjutkan makannya, sungguh ia merasa “malu” pada anaknya, atau tepatnya malu pada dirinya sendiri, yang selama ini sudah merasa pintar, tapi pada kenyataannya tidak bisa menjawab pertanyaan yang “mudah” dari anaknya.

Jika pertanyaan “siapa Allah” dan “Kenapa Allah memberi rezeki yang berbeda” itu diajukan ajukan kepada kita, apa yang akan kita jawab?

“Apakah kita sudah kenal Allah?”
“Apakah kita tahu kenapa Allah berbuat demikian?”

Allah sangat “ingin dikenal” oleh kita, sehingga Allah memberikan “tanda-tanda” atau ayat-ayat-Nya untuk menuntun kita agar mengenalnya dengan baik;


33. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan dari padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka makan.
34. Dan kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air,
35. Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?
36. Maha Suci Tuhan yang Telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.
37. Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; kami tanggalkan siang dari malam itu, Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.
38. Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
39. Dan Telah kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (Setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua[1267].
40. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
41. Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan.
42. Dan kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu[1268].
43. Dan jika kami menghendaki niscaya kami tenggelamkan mereka, Maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan.
44. Tetapi (Kami selamatkan mereka) Karena rahmat yang besar dari kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.

[1267] Maksudnya: bulan-bulan itu pada Awal bulan, kecil berbentuk sabit, Kemudian sesudah menempati manzilah-manzilah, dia menjadi purnama, Kemudian pada manzilah terakhir kelihatan seperti tandan kering yang melengkung.
[1268] maksudnya : binatang-binatang tunggangan, dan alat-alat pengangkutan umumnya.

Surat Yaasiin, ayat 33~44 tersebut diatas, adalah sebagian contoh kecil bagaimana Allah memberikan “gambaran” atau tanda-tanda-Nya untuk dikenali;
- Allah, Dia-lah yang menghidupkan bumi yang mati, yang mengeluarkan biji-bijian, kebun kurma dan anggur yang dari padanya kita makan

- Allah, Dia-lah yang menciptakan pasangan-pasangan dari jenisnya sendiri

- Allah, Dia-lah yang menganti siang menjadi malam, dan malam menjadi siang
- Allah, Dia-lah yang mengatur peredaran matahari dan rembulan, sehingga keduanya tidak bertabrakan

- Allah, Dia-lah yang menjadikab bahtera dapat berlayar dilautan,

- Allah, Dia-lah........masih banyak tanda dan ayat-ayat-Nya yang seharusnya dapat menuntun kita untuk mengenal-Nya dengan baik.

Jika sampai saat ini kita belum “menemukan” Allah, mungkin ada yang salah atau kurang dalam diri kita, sehingga tanda-tanda dan ayat-ayat-Nya yang demikian besar dan jelas, tidak dapat kita baca, tidak dapat kita jadikan rujukan untuk dapat mengenalnya (Baca: Witing tresno saka kulina, untuk mengingatkan kita akan pentingnya kita mengenal Sang Pencipta kita-pen).

Pertanyaan kedua; Kenapa Allah memberi rezeki yang berbeda-beda?

37. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan dia (pula) yang menyempitkan (rezki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman. (Ar ruum:37)


52. Dan Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman. (Az Zumar:52)


Perhatikan kedua ayat diatas, redaksinya hampir sama, hanya awalannya saja yang berbeda, “Dan apakah mereka tidak memperhatikan”, dan “Dan Tidakkah mereka mengetahui” , kalimat selanjutnya sama, Allah “menantang” kita untuk memikirkan kenapa Allah memberi rezeki yang berbeda kepada kita, persis seperti pertanyaan sigadis kecil tadi.

Mari kita “perhatikan” hal yang paling dekat disekitar kita saja dulu, dikantor ini;

Seandainya, semua yang bekerja disini, memiliki jabatan (biasanya, jabatan berkaitan dengan penghasilan) yang sama, katakanlah manager semua, apa yang akan terjadi, mungkinkah perusahaan ini berjalan, ketika semua karyawannya semuanya ingin mengatur, karena mereka manager, lalu siapa yang menyapu lantai, siapa yang mau menyiapkan kopi, siapa yang mau angkat barang, siapa yang mau disuruh photo copy, pasti tidak ada yang mau, dan pasti perusahaan ini tidak akan berjalan.

Kemudian seandainya karyawan disini semuanya operator, atau semuanya office boy, atau semuanya driver, pasti juga perusahaan ini tak akan berjalan.

Jadi adanya perbedaan pangkat, jabatan dan penghasilan adalah bukti keadilan dan kebijaksanaan Allah untuk memutar roda kehidupan ini. Dengan ini seharusnya kita, sekali lagi kalau kita sudah mengenal Allah dengan segala Keadilan dan Kebijaksanaan-Nya, Insya Allah kita tidak akan banyak mengeluh, apapun posisi kita, berapapun penghasilan kita, end toh Allah sudah mengaturnya, dan Insya Allah juga kita akan mampu menjadi orang-orang yang bersyukur.

Yang kedua, mari kita ingat-ingat apa yang “biasanya” kita lakukan ketika penghasilan kita berlebih?

Ada sebagian kita mendadak menjadi konsumtif, segala dibeli, segala dituruti, karena kita merasa punya uang dan penghasilan yang banyak.

Ada sebagian kita yang tiba-tiba menjadi merasa “paling”, paling berharga, paling dibutuhkan, paling terhormat, dan lainnya, karena kita merasa punya banyak kelebihan.

Ada sebagian kita menjadi lebih “sibuk” mengurus penghasilan dan hartanya, sehingga lalai terhadap siapa yang memberikan kelebihan pada kita. Shalat kita hanya sisa-sisa cuci mobil, sedekah itu, sisa-sisa uang jajan dan recehan, dan lain sebagainya.

Ada yang tiba-tiba menjadi “boss” bagi orang tuanya, main suruh, tinggal perintah, tak lagi hormat, karena merasa telah menjadi “orang” , sementara orang tuanya tak lebih dari sekedar pembantu, dan lain sebagainya.

Untuk itulah, Allah berfirman dalam Surat Asy-Syura:27;

27. Dan Jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.

Kita, kata Allah, cenderung akan melampaui batas ketika kita diberikan kelapangan rezeki, seperti tersebut diatas, kita menjadi konsumtif, menjadi merasa “paling”, merasa sibuk dan “ngeboss”, sehingga Allah Yang Maha Tahu menurunkan apa yang dikehendaki-Nya sesuai dengan kadar dan kapasitas kita.

Ada banyak contoh orang yang “lulus ujian” ketika dicoba dengan kemalangan, tapi banyak pula yang gagal, justru ketika diuji dengan kesenangan. Semoga Allah membimbing kita untuk tetap dijalan-Nya, amiin.

Wassalam;

Desember 22, 2006.

No comments:

Post a Comment