Monday, February 19, 2007

Topeng

Topeng / kedok adalah penutup wajah yang biasanya digunakan untuk menutupi wajah yang sebenarnya.

Dalam pementasan wayang orang, misalnya, ketika melakonkan efik Mahabarata, para pemain wayang orang tersebut masing-masing mengenakan topeng sesuai dengan karakter yang diperankannya.

Ada yang mengenakan topeng tokoh Yudistira untuk memerankan seorang tokoh raja kerajaan Astinapura yang sabar, adil dan bijaksana

Ada yang mengenakan topeng Bima atau Werkudara, untuk menggambarkan sosok yang jujur lagi perkasa.

Ada yang mengenakan topeng Arjuna, yang melambangkan seorang ksatria yang gagah dan tampan dengan ketrampilan panahnya yang mumpuni.

Ada yang mengenakan topeng Nakula dan Sadewa, dua tokoh kembar yang juga melambang tokoh yang berkepribadian layaknya sang pahlawan.

Ada topeng Gatorkaca, Abimanyu, Sri Kresna, Bisma dan tokoh-tokoh “jagoan” lainnya.

Dipihak lain, ada pemain yang mengenakan topeng Duryudana, seorang raja yang bengis lagi kejam.

Ada tokoh Sengkuni, sang pengadu domba

Ada tokoh Dewi Gandari, seorang ibu yang penuh ambisi dan sangat menyayangi anak-anaknya.

Ada Raja Destarata, raja yang buta dan kemudian diperbudak oleh ambisi istrinya, Dewi Gandari.

Masih banyak tokoh dan peran dalam drama Mahabarata.

Yang menarik adalah jika dalam efik Mahabarata, pemain mengenakan topeng sesuai dengan karakter yang diperankannya, dalam kehidupan nyata, justru kita akan menemukan fakta sebaliknya.

Ada orang-orang disekitar kita, yang mengenakan “topeng Yudistira” dengan berpura-pura berlaku adil dan bijak, berpura-pura menjadi pengayom bagi rakyat kecil, berteriak mengatas namakan rakyat, untuk memenuhi keinginan dan kepentingan pribadi atau golongannya. Contoh nyatanya adalah ketika para pemimpin kita berebut wong cilik, hingga mereka rela menggendong petani, menarik becak, dan lainnya yang mereka lakukan sebenarnya adalah untuk kepentingan mereka memenangkan suara. Kebaikan mereka hanya topeng dan kedok untuk membungkus niatnya, bukan seperti tokoh Yudistira yang sebenarnya, yang rela mengorbankan dirinya, keluarganya, istrinya bahkan kehormatan dan kerajaannya demi untuk keselamatan rakyat banyak. Berhati-hatilah terhadap Yudistira-Yudistria palsu ini.

Kemudian kita juga sering menemukan “Pahlawan-pahlawan” dadakan yang berteriak lantang menyerukan keadilan, lagi, atas nama rakyat, mereka dengan gagah layaknya Bima, memprovokasi orang-orang disekitarnya, lalu kemudian dia sendiri “bersembunyi” dibalik topengnya. Ketika perjuangan berhasil, ia akan menyebut “Saya”, tapi jika perjuangan menemui hambatan dan tantangan, ia cuci tangan, perjuangannya tidak jujur layaknya tokoh Bima.

Kemudian kita juga akan menemukan orang-orang yang menempatkan dirinya sebagai “Satria Piningit” layaknya Arjuna dalam perang dipadang Kurusetra. Padahal apa yang dilakukannya tidak lebih dari upaya dia mendapatkan popularitas dan kedudukan. Mereka menebarkan “panah-panah” beracun untuk menjebak musuh dan mangsanya, bukan untuk kepentingan bangsa, sebagaimana dilakukan Arjuna untuk negeri Astinapura, tapi sekedar kepentingan perut dan golongannya.

Ada kemudian tokoh-tokoh yang mengaku-aku layaknya “dwi-tunggal”, yang satu arah satu tujuan, sebagaimana Nakula – Sadewa. Tapi justru waktu yang melepaskan topeng kebohongan mereka. Dibalik sikap manutnya itu tersimpan ambisi pribadi yang setiap saat bisa saja menyingkirkan siapapun yang dianggap pesaingnya.

Dilain sisi, ada orang-orang yang justru tidak dapat dikenali dari penampilan dan fisiknya.Kita kadang-kadang keburu “takut” dengan apa yang nampak disisi luar kstaria yang sesungguhnya.

Mungkin ada ksatria-kstaria yang sesungguhnya, yang penampilannya layaknya “orang buangan”. Justru mereka-mereka inilah, yang berjuang tanpa pamrih, seperti menjadi pendidik dipelosok-pelosok yang jauh dari jangkauan publikasi, kyai-kyai yang mengasuh pondok pesantrennya dengan penuh keikhlasan, para pejuang hati nurani, para pejuang panji-panji Allah, para syuhada sejati, mereka, niscaya tidak akan mengenakan topeng-topeng tokoh-tokoh Pandawa, mereka berpenampilan apa adanya, bahkan ada beberapa diantara mereka yang menyerupai tokoh Dasamuka wajahnya, tapi setulus Bisma hatinya.

Benarlah kata Allah dalam firman-Nya;


13. Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.(Al Hujuurat:13)

Bahwa yang paling baik lagi mulia disisi Allah adalah mereka yang paling tinggi derajat ketaqwaannya, bukan mereka yang mengenakan “topeng-topeng kebajikan”, bukan mereka yang mengenakan “kedok – kedok kepahlawanan”.

Jika “sesuatu” hanya dinilai dari sisi luarnya saja, niscaya buah durian yang manis lagi enak rasanya itu,tidak akan laku, karena kita sudah terperangkap dengan penampilannya yang “menakutkan”. Sebaliknya, buah Kedondong, dibalik kemulusan kulitnya, menyimpan serabut yang menyulitkan untuk dimakan, malah menjadi rebutan, sungguh sebuah kekeliruan besar!

Bukan kita yang berhak mengadili siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa yang akan mendapat azab atau justru mendapat ampunan, sebagaimana firman-Nya;


128. Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu[227] atau Allah menerima Taubat mereka, atau mengazab mereka Karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.

[227] menurut riwayat Bukhari mengenai Turunnya ayat ini, Karena nabi Muhammad s.a.w. berdoa kepada Allah agar menyelamatkan sebagian pemuka-pemuka musyrikin dan membinasakan sebagian lainnya.

Mari kita belajar bijak, dengan melihat berbagai hal dari sudut pandang yang benar lagi diridahi Allah, terutama dari sisi pribadi kita sendiri dulu, tanggalkan semua “topeng kemunafikan”, karena cepat atau lambat, orang lain akan menemukan siapa kita yang sebenarnya, jika kita selalu mengenakan topeng kedustaan. Sungguh berat kebencian manusia dan Allah terhadap orang-orang yang mengenakan “Topeng Kepalsuan”

Wassalam

Januari 02, 2007

No comments:

Post a Comment