Friday, February 16, 2007

Boneka yang tak berjiwa√

Sepanjang perjalanan pulang-pergi ketempat kerja, hampir setiap hari penulis melewati deretan warung kecil berjejer disepanjang jalan Jomin – Cikopo (Cikampek) yang menjajakan berbagai jenis makanan dan oleh-oleh mulai dari Colenak, rambutan, manisan, asinan dan berbagai jenis barang kerajinan dari keramik dan boneka.

Jenis terakhir inilah, yakni boneka yang kemudian menarik perhatian penulis. Boneka yang dijajakan diwarung-warung itu beraneka bentuk rupa dan warnanya, beragam ukuran dan tentu dengan harga yang berbeda pula. Dari sekian banyak perbedaan bentuk, warna dan harga dari boneka-boneka tersebut, ternyata mereka memiliki sebuah kesamaan, yaitu sebagai Boneka, yang bisa dipajang dimanapun, ditempatkan dimanapun, diletakan dalam kondisi apapun, digantung, dibungkus, dibiarkan tergeletak dan sebagainya. Mereka tak pernah keberatan atau protes atas perlakuan sang penjual boneka itu, karena memang mereka “hanya boneka” yang tidak memiliki hak untuk protes, tak mempunyai kekuatan untuk melawan, tak berdaya untuk lari, tak bisa bicara untuk mengadu, tak punya rasa untuk merintih, tak bisa meronta untuk minta tolong, tak kuasa untuk berbuat apapun, karena sekali lagi memang mereka “hanya boneka”.

Mungkin pembaca masih bingung dengan analogi diatas, dua kali penulis menyebut “hanya boneka”, yah hanya boneka.

Kita mengenal istilah “negara boneka” untuk menyebut sebuah negara yang tidak mempunyai kekuasaan mutlak atas negaranya sendiri. Tapi terlalu jauh bagi kita untuk membicarakan sebuah negara, meskipun itu “hanya sebuah negara boneka”. Penulis hanya ingin mengajak kita untuk berintropeksi kedalam diri kita sendiri saja dulu, adakah diri kita sudah merdeka dari perbudakan nafsu dan tidak menjadi boneka nafsu?

Kita, manusia, dibekali oleh Allah dengan Rasa dan Pikir, yang perpaduan keduanya kita sebut dengan Akal. Dengan akal inilah manusia mempunyai “Kebebasan” untuk menentukan nasibnya sendiri, kita berhak menempatkan diri kita kedalam golongan orang-orang yang benar, kita berhak memilih kondisi mana yang kita sukai, apakah kondisi nyaman atau kondisi yang kurang menyenangkan, kita berhak berbicara, kita bebas berkata-kata, kita punya rasa, kita punya telinga, kita punya tenaga untuk meronta, kita bisa berbuat sesuatu, karena memang kita manusia, bukan boneka.

Yang menjadi menarik adalah ketika ada sebagian kita, manusia ini yang menjadikan dirinya sebagai “boneka” dari nafsunya. Ada manusia yang diam saja ketika auratnya dipajang dimuka umum, ada manusia yang diam saja ketika nafsunya membungkusnya dengan ketidakjujuran, ada manusia yang diam saja ketika nafsunya mengajaknya panjang angan, ada manusia yang tak menyuarakan apapun ketika ketidak adilan terpampang didepan matanya, ada manusia yang tidak merasakan apapun ketika bencana dan derita melanda saudaranya, ada manusia yang tak mendengar apapun ketika rintah lapar menggema ditelinganya, ada manusia yang tak berbuat apapun ketika ia berpunya, ada manusia yang tidak pernah berpikir tentang awal penciptaannya, ada manusia yang tak pernah merasakan betapa besar nikmat dan karunia-Nya, “ada manusia yang seperti Boneka”, tak melakukan apapun, tak berbuat apapun, tak merasakan apapun, ia punya mata, tapi tak melihat, ia punya telinga, tapi tak mendengar, ia punya hati tapi tak merasa; simak firman Allah berikut ini;

46. Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.( Al Hajj:46)


Ketika hati tidak mampu menangkap dan memahami kebenaran, ketika telinga tak lagi menghiraukan seruan kebenaran, ketika mata tak lagi mampu melihat tanda-tanda kebesaran Allah, ketika itulah kita, manusia sudah berubah menjadi Boneka, sebuah boneka yang bebas dibuat apapun oleh nafsunya, bebas dijadikan apapun oleh nafsunya, bebas dimasukan kemanapun oleh nafsunya, karena memang ia hanya boneka.

Nafsu cenderung menyuruh kita untuk berbuat kemungkaran, sehingga seorang Nabi Yusuf pun hampir tergelincir dan terjebak oleh bujukan nafsu,

53. Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang. (Yusuf:53)

Dan sebuah tanda bagi kemanusian Nabi Yusuf ialah ketika ia segera sadar oleh perangkap dan jebakan nafsu, Nabi Yusuf segera berlindung kepada Allah dari kejahatan nafsunya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.

Kita dibekali oleh Allah dua jalan, yakni jalan kefasikan dan jalan ketaqwaan;

8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (Assyam:8)

Ketika kita menuruti jalan ketaqwaan, berarti kita akan menjadi “manusia”, tapi sebaliknya, ketika kita menuruti jalan kefasikan, maka ketika itulah kita akan menjadi “Boneka” syaitan.

Mari kita berlindung kepada Allah untuk ditunjukan dan dibimbing menuju jalan ketaqwaan, jalan bagi kemanusian kita, kita juga bermohon kepada Allah untuk dihindarkan dari jalan kefasikan yang akan menjadikan kita boneka syaitan.

5. Hanya Engkaulah yang kami sembah[6], dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan[7].(al Fatihah;5)

[6] Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, Karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.

[7] Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.

Desember 19, 2006.√

No comments:

Post a Comment